TUJUH BELAS

TUJUH BELAS

Oleh Pulo Siahaan

Pornografi itu sendiri memang belum pernah didefinisikan secara tuntas. Selalu saja ada komentar, diskusi, debat kusir maupun forum tidak resmi membicarakan hal ini. Dan nampaknya orang selalu tertarik untuk beradu argumentasi mengenai aspek yang satu ini. Begitu juga dengan hubungan antara pornografi dan batas usia penonton di bioskop. Sebelum melanjutkan tulisan ini, hendaklah kita menyetujui dulu bahwa apa yang telah ditetapkan oleh badan berwenang tentang batas usia tertentu untuk suatu film tertentu dapat kita terima.

Akcaya 1 Desember 1989 memberitakan bahwa sebuah bioskop di Kota Baru Nanga Pinoh tidak selektif terhadap penontonnya. Film yang diputar adalah untuk tujuh belas tahun ke atas, tetapi banyak anak-anak dan remaja di bawah usia itu ikut menonton. Sebenarnya bukan hanya di sana saja terjadi demikian, tapi di banyak bioskop yang ada di Kalimantan Barat. Saya sendiri juga sering menyaksikan keadaan seperti ini di kota-kota kecamatan.

Akcaya 5 Desember 1989 memuat tulisan Sri Suheryanti Jalan Yos Sudarso Pontianak dalam Redaksi Yth yang melukiskan tentang anak menonton film 17 tahun (maksudnya, ke atas). Katanya, di sana tertulis untuk 17 tahun ke atas, namun banyak remaja yang menonton. Pokoknya ada karcis, bisa masuk. Rasanya penulis tersebut terlalu ekstrim untuk membebankan kesalahan hanya pada penjaga bioskop saja. Penonton diminta menunjukkan KTP?

Beberapa terbitan Akcaya sebelumnya juga memuat keluhan (termasuk dari beberapa ibu) mengenai batas usia ini dihubungkan dengan film yang wajar untuk ditonton. Sebenarnya kalau kita melihat kembali ke belakang, dari jaman kuda gigit besi hingga era tinggal landas, kita selalu dihadapkan pada perbenturan antara dua kepentingan. Anak-anak dan remaja (termasuk orang tua) tentu tergiur untuk mencoba sesuatu yang terlarang buat mereka. Ini lumrah. Manusiawi. Pengusaha bioskop mengharapkan agar usaha mereka dapat terus berlangsung, apalagi dalam suasana yang semakin ketat dewasa ini (baik persaingan antar-bioskop maupun persaingan antara bioskop dan media lain seperti kaset video, film TVRI dan lain-lain). Inipun wajar.

Beberapa hari yang lalu saya dan keluargaberkeliling kota Pontianak. Di tepi salah satu jalan utama di seberang Apotik “Kita” terpampang dengan gamblang “gambar mati” sebesar gajah bengkak milik Kapuas 21. Film “Tamu tengah malam” dengan Hengky Tornado, Yurike Prastica dan Sally Marcellina cukup membuat jantung berdetak-ria mengiringi pelototan mata tanpa kedipan yang tertancap di sana. Bagus, berarti itu jantung masih normal. Betul …., tapi itu mata anak-anak dan remaja yang melihatnya. Kadang lebih normal dan jeli.

Begitu juga pada hari yang sama kami putar-putar di sekitar kompleks perbelanjaan Nusa Indah. Lagi-lagi di atas sana tersajikan dengan jelas gambar “penggerak otot” Cat Chaser (Peter Weller) dan Vampires in Venice (Klaus Kinski, kebetulan ini bintang kesayangan saya). Gambar-gambar itu cukup membuat jidat bergerak keatas dan kebawah. Mau tidak mau saya harus memperbaiki letak kacamata saya. Sempat turun setengah sentimeter dari posisinya.

Teori ekonomi perusahaan membahas bahwa tidak satupun perusahaan yang bertujuan untuk merugi. Namun juga tidak diharapkan perusahaan tersebut untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui eksploitasi yang bernaluri dan berselera rendah jauh dari etika dan estetika. Pemfokusan segi komersial semata tidak dapat ditolerir.

Sekarang siapa yang salah kalau penonton menyaksikan film yang bukan untuk usia mereka? Pemerintah Daerah? Pengusaha Bioskop? Karyawan/penjaga karcis? Aparat keamanan? Atau orang tua? Atau juga guru? Hal ini tidak dapat diperdebatkan.Bukan berarti tidak berguna ntuk didiskusikan. Hany saja, masing-masing itu mempunyai andil sendiri-sendiri. Semua salah dan semua benar, tergantung dari sudut pandang mana kita meninjaunya. Kami sendiri sekeluarga sudah hampir tiga tahun tidak pernah menginjakkan kaki di dalam gedung bioskop, kecuali satu dua kali anak-anak menonton karena ada anjuran dari guru mereka. (Kelurahan Bangka Belitung, Pontianak). (Dikirim ke Akcaya pada 6 Desember 1989 dan dimuat pada 7 Desember 1989).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: