RUKO

RUKO, RIWAYATMU DULU

Oleh Pulo Siahaan

Terus terang saya merasa kaget dan kagum membaca kabar di Harian Akcaya, Selasa, 11 Juni 1991. Betapa tidak? Walikota H.A. Majid Hasan mengemukakan agar developer hendaknya tidak hanya sekedar membangun pasar untuk mencari keuntungan saja, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat. Developer hendaknya mengupayakan agar bangunan dapat tercegah dari ancaman kebakaran. Ini dikatakan oleh Majid pada saat peresmian Pasar Seruni di Kecamatan Pontianak Timur, 10 Juni yang lalu.

Saya lalu teringat akan ‘lobbying’ saya dengan beberapa rekan (Rousdy, SH MH; Drs Martoyo, MA dan Ir A. Hamid, Meng) sewaktu ‘rehat’ siang dalam seminar Sehari dalam rangka Dies Natalis ke-32 Untan, 14 Mei 1991. Waktu itu secara ‘guyon’ saya katakan bahwa ruko itu bukan singkatan dari rumah toko, tetapi singkatan dari Raup Uang Korbankan Orang. “Mbok ojo ngono tokh, Kang”, ucap Martoyo sembari menghirup kopinya.

Sebenarnya bukan ungkapan Walikota di atas yang membuat saya kaget dan terkagum-kagum, tetapi karena dia mengaku alergi dengan pembangunan ruko. Dia mengharapkan agar pembangunan ruko yang masih terlihat di Pasar Seruni itu merupakan bangunan yang terakhir kali. Dia tidak ingin bangunan ruko tetap dikembangkan.

Saya sangat kaget pada saat terjadinya kebakaran ruko yang juga merenggut lima jiwa di Kompleks Pertokoan Nusa Indah di penghujung bulan April lalu, Majid menandaskan beberapa hal yang nampaknya ‘kontradiktif’ dengan pengakuan di atas. Dia mengatakan, “Jangan mengkambinghitamkan parit-parit yang ditutup karena sulit menemukan air”.

Lalu dilanjutkan, “Masyarakat kurang bertanggungjawab terhadap pencegahan dini bahaya kebakaran. Masalahnya kembali lagi ke masyarakat yang tidak menyediakan alat pemadam kebakaran, tidak cermat pada kompor, rokok dan obat nyamuk. Tidak memeriksa kabel listrik”. “Tidak perlu menyalahkan pengusaha yang menutup parit. Saya pernah mengingatkan agar pemilik atau penghuni ruko ikut bertanggungjawab terhadap pencegahan kebakaran”.

Saya kagum karena Majid dengan penuh kesungguhan menyatakan bahwa dia alergi dengan ruko. Dan dia tidak menginginkan adanya ruko-ruko lain sesudah Pasar seruni. Ini merupakan rencana dan cita-cita yang benar-benar mengandung risiko. Terlalu berani? Betul, bahkan ‘amat sangat’ berani. Karena dia dan mungkin walikota-walikota lain sesudah dia harus konsekuen dengan rencana dan cita-cita itu. Masyarakat juga terkadang bisa ketularan alergi.

Memang belum ‘kasip’ (terlalu terlambat) untuk mengkaji ulang rencana tersebut. Karena sebenarnya bukan hanya di Kotamadya Pontianak atau di Kalimantan Barat saja ruko-ruko berdiri. Di seluruh Indonesia bahkan di banyak negara maju sekalipun dapat dijumpai ruko. Kalau begitu bukan pembanngunan ruko yang perlu dihentikan, tetapi pengaturan ruko, pengawasan pembangunan ruko serta fasilitas yang diperlukan, dan lain-lain layak diperhatikan.

Dalam satu kesempatan Wagub Kalbar Drs Jimmy M. Ibrahim mengatakan bahwa ada yang salah dalam perencanaan kota (Pontianak) ini. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pembangunan kota seharusnya ada hidran, sehingga kalau terjadi kebakaran, maka kesultian sumber air dapat diatasi.

Walaupun bukan hanya hidran yang diperlukan dalam perencanaan kota, namun paling tidak ‘dewa penolong’ ini sering didengung-dengungkan banyak orang agar tersedia. Seorang pengusaha yang tokonya nyaris dilahap api (tetangga toko yang kebakaran di Nusa Indah) bertanya, “Siapa yang seharusnya menyediakan fasilitas hidran, dan menghidupkan parit?”

Menurut cerita yang dapat dipercaya, pada tahun 1960-an ada 50 hidran yang tersebar di Kotamadya Pontianak yang dibuat oleh Kontraktor Perancis. Sumber air hidran itu berasal dari pipa air leiding (sekarang PDAM). Dikatakan bahwa diantara hidran itu sudah ada yang karatan. Dan bahwa hidran itu perlu ditata kembali, karena sudah tidak tepat lagi dengan pemusatan bangunan.

Begitu pesat pembangunan (fisik) di Kodya ini. Pontianak terasa semakin sesak. Pencemaran usdara makin menggila. Pakar lingkungan hidup tergugat. Lihat juga Yogyakarta yang pembanngunan kotanya sekarang terpusat di Jalan Solo dan kawasan utara lainnya (termasuk Jalan C. Simanjuntak). Toko-toko bermunculan bagaikan cendawan di musim hujan. Makin lama toko-toko itu makin ‘menyerbu’ kompleks Universitas Gadjah Mada. Saya khawatir (tidak beralasan?) bahwa suatu saat kompleks kebanggaan Yogyakarta itu akan tergusu oleh toko-toko tadi.

Ini juga saya hubungkan dengan sinyalemen yang dibuat oleh Ir A. Hamid, Meng tentang kemungkinan waduk di wilayah Kecamatan Pontianak Selatan dan lapangan sepakbola Khatulistiwa di Kecamatan Pontianak Barat akan berubah menjadi ruko-ruko. Boleh jadi dua atau tiga Pelita mendatang kompleks Universitas Tanjungpura juga ‘dikepung’ oleh ruko-ruko. Apa jadinya kalau universitas kebanggaan Kalbar ini juga tergeser oleh ruko-ruko itu. “Akh, itu ‘kan hanya impian di siang bolong saja, Mas Pulo”. “Mudah-mudahan saja”.

Paling tidak ada tiga komentar dari anggota DPRD Kodya Pontianaka mengenai kebakaran di Nusa Indah. Kesatu, developer hanya memikirkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan keselamatan manusia dan bangunannya. Terbukti hidran yang seharusnya ada di setiap lokasi bangunan tidak ditemukan. Sistem drainase juga tidak berfungsi.

Kedua, tidak ada lorong-lorong atau jalan pemisah bangunan bagi pengaman kebakaran untuk mewmudahkan unit pemadam kebakaran bekerja. Ketiga, toko-toko yang terbakar bercampur baur antara kelontong, tekstil sampai toko penjual minyak pelumas.

Kita juga dapat menyimak komentar warga yang begitu beragam atas kejadian kebakaran itu. Ada yang menganjurkan untuk dibuat parit saluran atau penyimpan air. Ada yang menyarankan agar dalam jarak 200 meter sebaiknya dibuat bak air dengan kapasitas 40 – 60 meter kubik.

Urun rembug tidak berhenti disitu saja. Ir. Dharma Sujana juag menyarankan agar dalam mengatasi kesulitan air dibuat jaringan pipa air dari kawasan ruko ke Sungai Kapuas. Melalui pipa itu air digiring ke lokasi ruko dan dibuat hidran untuk tempat menyedot air. Dia katakan bahwa metode ini memang mahal, tetapi dia menyarankan agar Pemda bekerjasama dengan pemilik ruko.

Saran lain adalah pembuatan tangga darurat dari tiap tingkat ruko ke bawah. Usul lain adalah pemasangan kabel-kabel listrik yang dilakukan oleh instalatir agar diawasi dengan ketat. Semua saran, urun rembug, komentar, dan usul yang terkadang usil yang disumbangkan oleh warga masyarakat, hendaknya ditanggapi secara positif tanpa rasa was-was dan curiga. Ini perlu untuk memelihara dan mempertahankan derajat kepedulian warga masyarakat dalam pembangunan di daerah ini.

Kalau begitu mari kita tunggu kembalinya Walikotamadya H.A. Majid Hasan dan rombongan dari lawatan mereka ke tiga negara di Eropa dalam melakukan studi perbandingan mengenai penataan kota dan sistem drainase termasuk parit (Belanda terkenal dengan parit-parit kota dan kota di bawah air).

Semoga Walikota nanti membawa oleh-oleh yang membuat kota kita menjadi kota kebanggaan dan hati kita menjadi berbunga-bunga. Dan semoga perencanaan yang telah, sedang dan akan dibuat dapat dikaji ulang. Sehingga nanti tidak akan tercipta lagu dengan judul “Ruko, riwayatmu dulu”. Tidak ada istilah terlambat untuk melakukan perbaikan. Karena itulah pembangunan. (Penulis adalah pengamat masalah ekonomi pembangunan regional). (Dikirim ke Akcaya pada 19 Junil 1991 dan dimuat 09 Juli 1991).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: