MERPAK, MASIHKAH …………?

MERPAK, MASIHKAH …………?

Oleh Pulo Siahaan

Di warung kecil pinggiran Sungai Kapuas, Semuntai. Siang itu, saya asyik minum sari kacang ijo. Sendirian. Menatap air sungai yang mengalun pelahan. Sambil menunggu kapal penyeberangan dari seberang sana. Dalam lamunanku seorang (bukan teks lagu, lho), dua bis besar datang dari arah Sintang. Tujuan kami sama, Pontianak. Bis-bis itu sarat dengan penumpang dan barang.

Bis belum berhenti benar, ketika beberapa penumpang sudah berhamburan dari dalam. Laki-laki perempuan. Masih muda-muda. Sebagian langsung masuk di warung dekat bis berhenti, agak jauh dari tepi sungai. Sebagian lagi tancap langsung menuju bilik kecil yang terapung di sungai. A, dugaan pembaca tidak meleset. Mereka ke sana untuk meringankan tubuh. Sisanya menuju ke warung tempat saya minum.

Dua tiga orang memesan minuman dan indomie rebus campur telor. Istimewa, kata orang Yogya. Beberapa yang lain langsung angkat cerita. Pada mulanya tidak tentu rudu. Raut wajah mereka menunjukkan kepenatan luar biasa. Namun terlihat betapa senang dan gembiranya mereka. Senyum (sebut nama odol apa saja) bahkan ketawa ngakak mereka umbar. Mengasyikkan buat saya memperhatikan tingkah mereka. Teringat masa lalu (lagi-lagi bukan teks lagu) kala saya semuda mereka.

“Bukan main susahnya mendorong truk itu. Nih, dengkul saya mau copot”, kata seorang laki-laki yang agak kurusan.

“dasar memang, hujannya nggak diduga, sih”, sambut laki-laki bertopi. “Saya juga capek”, tambahnya.

“Tapi Pak Bupatinya baik, lho, ya!”, timpal perempuan mudayang duduk di depannya dengan nada serius. “Horas bah”.

Di dalam kebingungan (atau kebengongan) saya, mata saya tertuju pada tulisan yang ada pada T-shirt salah seorang diantara mereka, “Imax Indonesia Indah III”. Nah, ketemu kuncinya sekarang. Dari omongan mereka selanjutnya otak saya dapat merekam bahwa mereka baru saja pulang dari pembuatan filem di Sintang.

Mereka memulai kegiatan itu sejak tanggal 9 sampai dengan 15 Agustus 1989. Lokasinya di rumah panjang Ensait Pendek dan desa Merpak, Bukit Kelam. Nanti dulu, sekarang tahu, ‘kan, bahwa Merpak itu adalah nama sebuah desa di kaki Bukit Kelam, Sintang. Kebetulan dua hari sebelumnya, saya bersama seorang teman (dokter Anshar, yang baru berpraktek di Sekadau) berfoto di Sintang dengan latar belakang Bukit Kelam nun jauh di sana.

Banyaknya artis yang ikut kurang-lebih seratus orang (sebagian besar dari Sintang dan sebagian lagi dari Pontianak). Hujan yang lebat mengakibatkan jalan antara Merpak dan Ensait Pendek rusak cukup berat. Sehingga jalan yang berjarak hanya sekitar 40 km itu mereka tempuh lebih dari enam jam. Ada juga beberapa orang Amerika yang turut dalam pengambilan gambar mereka. Namun dengan kekuatan fisik dan mental, pada akhirnya semua atraksi, termasuk pendakian bukit dan tarian massal di Ensait Pendek, dapat diambil gambarnya dengan memuaskan. Semua informasi ini saya contek dari pembicaraan mereka.

Sari kacang saya sudah lama habis. Sebagian diantara mereka juga menghabiskan mie mereka. Kapal penyeberangan baru setengah perjalanan. Beberapa truk ditelannya. Juga bis besar. Dengan gagah sang kapal tua, yang konon dulu dipergunakan untuk alat penyeberangan di Pontianak itu, mengarungi sungai itu. Lambat tapi pasti, itulah ungkapan yang sepadan dengan dia.

Pembicaraan anak-anak muda itu sekonyong-konyong beralih ke singkatan dan kepanjangan. Salah seorang bertanya, “Singkatan dari apa ya Ensait?”. Yang lain menjawab dengan cepat, sehingga saya sendiri tidak dapat menangkapnya dengan jelas. Lalu orang yang sama bertanya lagi, ”Kalau Merpak singkatan dari apa?” Dijawab oleh si laki-laki agak gemuk sambil menengadahkan kedua tangannya dengan wajah (berpura-pura) memelas, “Masihkah engkau rasakan pahitnya arti kehidupan?” Saya sempat terkesima mendengarnya. M..e..r..p..a..k.., batinku. Pinter? Kreatif atau …..?

Daerah Tingkat I Kalimantan Barat sudah ditentukan oleh Menparpostel, Susilo Sudarman menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang ke-19 di Indonesia sejak 27 Juli 1989. Tak pelak lagi, pembuatan filem Imax merupakan ajang promosi akbar buat Bukit Kelam, Sintang. Sejak Maret 1990 nanti filem tersebut akan dipertunjukkan di Teater Imax “Keong Mas” TMII Jakarta serta di puluhan teater Imax di seluruh dunia.

Konsekuensi logisnya adalah bahwa Sintang harus berbenah diri untuk menciptkan Bukit Kelam menjadi obyek wisata alam yang dapat diandalkan. Gelagat dan kesempatan ini telah tercium oleh Letkol. Bonar Sianturi, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sintang. Sejak dini dia sudah mengajak para investor untuk menanamkan modal dan membuka usaha yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan kepariwisataan, di lokasi Bukit Kelam dan sekitarnya.

Memang, cepat atau lambat, Sintang dengan Bukit Kelamnya yang akan menjadi dikenal oleh dunia internasional itu memrlukan fasilitas pendukung seperti penginapan/wisma kelas menengah ke bawah, biro perjalanan, pemandu wisata, restoran atau rumah makan sederhana, pengadaan air bersih, listrik dan lain-lain. Untuk saat ini jalan darat boleh dikatakan cukup memadai, kecuali sebagian ruas jalan antara Sekadau dan Sintang yang pengerjaannya masih berlangsung sekarang ini. Jembatan di atas Sungai Melawi sudah berdiri dengan tegak dan siap untuk dipergunakan. Angkutan air memadai, kecuali pada bulan-bulan tertentu bila musim kemarau tiba. Air sungai surut. Angkutan udara dapat diandalkan. Tentu saja ada beberapa perbaikan di sana-sini. Yang jelas, kesemuanya ini harus dikembangkan secara terpadu dan terkoordinir.

Dengan demikian diharapkan banyak warga yang terlibat dalam semua kegiatan diatas dan akan menjadi tambahan sumber penghidupan bagi mereka kelak. Industri kerajinan rakyat juga nantinya akan berkembang. Sektor-sektor lainpun nantinya akan tertunjang. Apalagi. Tak kenal maka tak sayang. Maka kenalkanlah ….. Sehingga menjadi salah satu obyek wisata alam yang indah dan menarik di Kalimantan barat pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Melamun? Bukan. Mimpi? Tidak. Dan jawaban untuk kepanjangan Merpak itu tadi tentu saja menjadi “Tidak!” (Kampung Bangka Belitung.) (Dikirim ke Akcaya pada 3 November 1989 dan dimuat pada 6 November 1989).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: