MENUMBUHKAN SIKAP RELIGIUS ANAK-ANAK

MENUMBUHKAN SIKAP RELIGIUS ANAK-ANAK

Tadi malam, saya sempat mengutip tulisan di bawah di halaman penggemar Romo Mangun. Sebelumnya sudah berulang kali saya membacanya. Selalu menimbulkan gairah dan kritik-diri, spt yg barusan saya alami.

Y. B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dalam “”. Gramedia. 1996:

Maka cobalah kadang−kadang sebagai sebentuk renungan, Anda memandang anak−anak Anda sedikit lama. Seolah−olah Anda pelan−pelan meminumnya ke dalam hati. Perhatikan wajahnya, ketawanya, omongnya, nakalnya. Reguklah si anak itu, seolah−olah dia Anda masukkan kedalam tulang saraf Anda, dalam seluruh jiwa Anda. Tidak sebagai pengamat ilmiah, tetapi sebagai manusia biasa saja, seorang pecinta yang ingin berbuat baik baginya. Maka segeralah Anda akan merasa bahwa si anak itulah yang memperkuat keberanian Anda untuk mendidiknya terus. Kendati Anda mungkin merasa tidak berdaya atau tidak pantas. Dan ternyata Anda akan sadar bahwa bukan hanya si orang tua mendidik anak. Ternyata Anda akan merasa, bila Anda jujur, bahwa juga si anak itulah yang mendidik Anda sendiri, orang tuanya. Si anak ternyata terus−menerus memperkuat iman orang tua, membuat Anda berani dan teguh dalam niat, menjadi orang tua yang berikhtiar. Maka si anak nanti akan merasakan pula dengan radar−radar alaminya bahwa Anda mencintainya. Dan itu sudah cukuplah sebagai modal pertama. Modal yang paling vital dan mutlak. Sebab sebenarnya anak hanya minta dilindungi dan dicintai. Itu yang pokok. Lainnya dapat menyusul atau ditawar.

Horas!
Erwin

Nb.
Buku yang sangat baik. Secara fisik memang sederhana, ilustrasinya juga foto2 hitam-putih yang terkesan jadul banget. Buku yg dikatapengantari oleh Gus Dur ini rasanya sudah sangat sulit ditemui. Saya menemukannya di Gramedia Yogya tahun 1999. Hanya tersisa 3 buku dan saya beli semuanya. Satu buku saya berikan pada seorang mahasiswi arsitektur yg melanjut ke Sekolah Teologi di Malang sekarang melayani di Papua, satu lagi saya berikan pada mahasiswi arsitektur (muslim, agak “puritan”, semula menolak menerima karena “bau kristen”nya, tapi setelah membacanya ber-kali2 mengucap terima kasih) yang memutuskan untuk menjadi guru taman kanak2. Sisa satu lagi sekarang ada di rak buku saya. (Erwinthon P. Napitupulu, dalam milis hkbp, kutipan menjelang malam).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: