JENGGOT “DARIPADA” SIAPA

JENGGOT “DARIPADA” SIAPA YANG TERBAKAR?

Oleh Pulo Siahaan

Saya tergelitik dengan tulisan di Harian Akcaya, 5 Maret 1990. “Kebakaran Jenggot”, itulah judul yang diberikan oleh A. Halim R., salah seorang “wartawan tua” di Kalimantan Barat. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya beserta puteri pertama saya berpandang tampang dan beromong-ria denagn dia di kantor akcaya, sesudah sekian tahun tidak pernah saling menyapa. Tentu saja karen lama tidak pernah berjumpa.

“Suwi ora ketemu, Mas Lim”, sapaku sambil cengengesan. “Aku masih seperti dulu”, katanya. “itu sih judul lagu Betharia Sonata”, batinku. Tapi jenggot itu, lho. Akeh tumane. Memang gaya tulisannya masih seperti yang dulu. Menggemaskan, menarik dan terkadang mengundang senyum (Gigident, merk odol yang bakal diproduksi pada awal abad ke-21 mendatang). Bahkan insan yang urat gelinya sedikitpun akan menyunggingkan bibirnya. Akh, masa’ iya, Prof.

Dalam “Kebakaran Jenggot” itu di mengungkapkan “keinginannya” menjadi seorang pejabat, yang katanya ‘pidato pejabat bertabur dengan kata daripada. Simaklah kalimat berikut ini. “Dan adalah jenggot daripada saya punya dagu daripada muka saya, yang termasuk daripada saya punya bulu, memang tumbuh agak lebat”.

Tentu saja dia sengaja membuat kalimat yang ‘amburancu’, karena bukan hanya penggunaan kata ‘daripada’ saja yang tidak benar, tetapi juga susunannya. Untuk mendukung suasana sesuai dengan skenario, dia juga menyertakan pasfotonya dengan wajah penuh bulu. Kata ‘daripada’ yang dia gunakan berjubel dan bertumpuk-tumpuk. Kalau begitu judul yang benar untuk tulisan ini, apa ya?

A. Halim R. Hanya bercanda. Sebab ‘so’ pasti bukan hanya pejabat yang menggunakan kata ‘daripada’ dengan cara yang tidak tepat. Dan cukup banyak koq pejabat yang menggunakannya dengan persis. Sebenarnya semua lapisan masyarakat tidak ketinggalan menggunakan ketidaktepatan ini. Siswa, abang becak, mahasiswa, anggota siskamling, guru, camat, dosen, transmigran, sopir ambulans, pedagang kaki lima, pelayan di pasar swalayan, polisi, petugas satpam di bank dan di hotel dan lain-lain juga punya andil masing-masing.

Saat ini bukanlah bulan bahasa. Dan yang lebih penting lagi saya bukanlah pakar bahasa Indonesia. Bukan juga pengamat bahasa Indonesia. Kalau kita mau jujur, maka kita akan mengatakan (mungkin kepada teman atau kepada diri sendiri) bahwa orangyang benar-benar pakar bahasa Indonesia masih langka. Ada beberap orang memang (baik karena bidangnya maupun hanya sekedar ingin tahu lebih banyak) yang mati-matian mendalami bahasa Indonesia dengan segala aspeknya, memberikan komentar baik melalui koran, majalah, dan media lainnya. Juga membahasnya antar-kawan dekat.

Saya sendiri tergerak untuk menyajikan tulisan ini dengan alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan salah satu hal di atas. Saya hanya sekedar mengangkat ke permukaan beberapa hal yang sebenarnya sudah basi, sudah tidak ‘up to date’ lagi. Cuma kita tentu ingat, bahwa salah satu ikrar suci yang dimandangkan oleh pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 adalah kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sejak bertahun-tahun yang lalu kita selalu dicekoki dengan perbedaan penggunaan kata ’dari’ dan ‘daripada’. Sebetulnya ini hanya sebagian kecil dari ribuan contoh yang ada. Barangkali karena kata-kata itu sangat sering digunakan baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulisan. Bahkan ada yang sambil berseloroh mengatakan ‘daripada daripada, lebih baik lebih baik’.

Dalam beberapa kali pertemuan, Drs. Chairil Effendy, dosen FKIP Untan, sering mengungkapkan kekesalan dan keprihatinannya atas penggunaankata ‘dari’ dan ‘daripada’ dengan tidak tepat. Juga Drs Djon Lasmono dari lembaga yang sama dengan menggebu-gebu menulis di Akcaya, 13 Oktober 1988, tentang usaha memasyarakatkan bahasa Indonesia yang baik. Disamping itu G. Mahmud Asri dalam Akcaya, 25 Oktober 1989 menyatakan adanya anggapan sebagian orang bahwa bahasa sendiri tidak perlu dipelajari, bahasa Indonesia lebih gampang daripada bahasa asing, dan bahasa Indonesia tidak mampu menjadi bahasa murni.

Dra Suryati B. Azharie dalam satu terbitan Akcaya dengan judul ‘Sikap pemakai dan pemakaian bahasa Indonesia’ menyadari bahwa tidak memakai bahasa Indonesia atau tidak mewujudkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia tidak dapat disamakan dengan pelanggaran norma atau hukum yang berlaku yang mempunyai sangsi konkrit. Pelanggaran dalam penggunaan bahasa Indonesia ada sangsi normatifnya. Mau tidak mau berbahasa Indonesia tergantung pada sikap individu pemakai.

Dalam terbitan Akcaya lainnya, tulisan Suryati berjudul ‘Bahasa cermat hasil kecermatan berpikir’, memaparkan bahwa ketidakcermatan berbahasa yang berdampak negatif ialah ketidaktelitian yang mengakibatkan gagasan atau pendapat yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan yang dapat pula mengakibatkan komunikasi tidak terjadi. Dan dalam satu kesempatan lain, Prof. Dr Fuad Hassan, Mendikbud RI, menyebutkan bahwa dalam pemeliharaan dan penggunaan bahasa Indonesia harus dihindarkan keserampangan dan kesembarangan. Beberapa kali Achmad M. Ali juga menulis dalam Akcaya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bahasa Indonesia.

Dalam suatu penataran yang saya ikuti di Bandung pada tahun 1985 yang lalu, Prof. Dr P.W.J. Nababan (Guru Besar Ilum Bahasa IKIP Jakarta) mengingatkan bahwa fungsi bahasa yang paling mendasar adalah untuk komunikasi yaitu alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia. Dalam kesempatan yang sama juga Prof. Dr Sudjoko, MA (Ahli Senirupa ITB), Prof. M.M. Purbo Hadiwidjojo (Geologiwan Teknik), Drs Adjat Sakri, MSc (Dosen Senior Jurusan Senirupa ITB) dan Prof. Dr J.S. Badudu melampiaskan kekurangsenangan mereka atas ketidakpedulian banyak orang akan penggunaan bahasa Indonesia. Bahkan Badudu mengatakan bahwa penggunaan kata ‘daripada’ yang berlebihan dan yang tidak apada tempatnya itu dianggap sebagai ‘penyakit’ bahasa.

Prof. Dr Ir Herman Johannes (Ahli Teknik UGM) menunjukkan kepeduliannya akan bahasa Indonesia. Dalam satu bukunya, “Pengantar Matematika Ekonomi” dia berusaha memanfaatkan sebanyak mungkin kata yang ada dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak istilah matematika dalam bahasa Inggris diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Suatu tugas yang berat.

Dalam bulan Agustus 1986 di Australia diadakan pertemuan yang membicarakan masalah hubungan antara Indonesia dan Australia. Pesertanya adalah mahasiswa Indonesia yang ada di sana dan mahasiswa Australia yang mengambil jurusan bahasa Indonesia. Saya sendiri dalam pertemuan itu adalah sebagai peserta tamu. August Marpaung, Duta Besar Indonesia untuk Australia kala itu menyatakan dengan sungguh-sungguh, bahwa bahasa Indonesia yang digunakan oleh mahasiswa Australia itu lebih baik dibandingkan dengan bahasa Indonesianya kebanyakan mahasiswa Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman saya dari Inggris, John Dickinson, yang sesudah satu tahun di Kalimantan Barat, sudah cukup fasih menggunakan bahasa Indonesia. Terutama dalam menggunakan kata ‘dari’ dan ‘daripada’ dia selalu benar. Saya tanya apa kuncinya. Dia katakan, “Gampang saja. Saya tahu kata ‘dari’ berarti ‘of’ atau ‘from’, sedangkan kata ‘daripada’ berarti ‘than’”.

Ada juga manusia lain, A.C. Chawla (tentu bukan orang Indonesia) yang dulu berkantor di Kanwil Transmigrasi. Bahasa Indonesianya cukup sempurna. Ini bukan hanya kata saya saja, tetapi juga oleh banyak orang yang mengenalnya. Bahkan dalam satu kesempatan berbincang-bincang dengan dia di Sungai Ayak, dia katakan bahwa penggunaan kata ‘anu’ itu tidak perlu dikembangkan. “Anu, saya berangkat dari anu, Pontianak, jam tujuh dan anu, sampai di Sungai Pinyuh, eh anu, jam sembilan”, katanya memberi contoh.

Sebenarnya dari dulu juga sudah dibicarakan dan dibahas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan bahasa Indonesia. Dari pihak Pusat Pengembanngan dan Pembinaan Bahasa Indonesia lewat TVRI ada acara sekali seminggu membahas bermacam hal tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar. Koran yang beredar di Indonesia termasuk koran Akcaya sendiri berulang kali menyajikan tulisan mengenai bahasa Indonesia beserta liku-likunya. Bacalah Intisari, tentu akan ditemukan satu ruang khusus “Inilah bahasa Indonesia yang benar” yang sudah lama diasuh oleh J.S. Badudu. Mau tahu bacaan lain? Dulu majalah anak-anak, Bobo, juga menyajikan satu ruangan khusus, “Bina Bahasa” namanya. Banyak lagi media lain yang tidak dapat disebut satu demi satu menggumuli bahasa Indonesia.

Sambil jalan sore-sore cobalah keliling di bundaran Kota Baru Ujung Jalan Sutomo. Pembaca akan menyaksikan tulisan di papan yang terpampang di sana “Kebersihan itu adalah sebagian daripada iman”. Lha, apanya yang kurang. Oh, sama sekali tidak ada yang kurang, bahkan …. berlebihan. (Dikirim ke Akcaya pada 10 April 1990 dan dimuat 14 April 1990).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: