BECAK

BECAK: Biaya Ekonomis Cuma Agak Kritis

Oleh Pulo Siahaan

Benar-benar saya tergelitik dan tersenyum simpul ketika mengamati gambar ukuran 18 x 11 cm pada halaman pertama Akcaya Kamis, 1 Februari 1990. Betapa tidak, pada saat gencar-gencarnya Pemda DKI Jakarta melenyapkan becak dari kota metropolitan itu, koran ini menyuguhkan gambar “tukang becak” dengan dua “penumpang”nya. Lho, apanya yang lucu? Nanti dulu.

Pagi-pagi sekali seperti biasanya akhir-akhir ini, Akcaya sudah sampai di haribaan saya. Masih hangat, sehangat sarapan yang akan santap pagi itu. Nasi dengan lauk tempe goreng panas kesukaan saya cepat-cepat saya pindahkan ke dalam perut (tentu saja lewat mulut). Tempe di tangan kananku, rawit di tangan kiriku. Saya langsung “tancap” ke Ruang Serba Guna Politeknik Untan karena saya akan mengikuti lokakarya yang dilaksanakan di sana, tanpa lupa membawa Akcaya tadi. Belakangan ini Akcaya menjadi sarapan kedua bagi saya.

Kebetulan salah seorang “penumpang” becak itu berada di depan ruang lokakarya. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dekan Fakultas Hukum Untan, Ismet M. Noor, SH. Dia bersama-sama Purek I, Ir. Sakunto, MSc dan beberapa teman lain berada di sana. Semuanya sedang menunggu kedatangan Rektor untuk membuka acara tersebut.

“Apakah gambar ini merupakan protes dan ungkapan ketidaksetujuan dari orang daerah terhadap penghapusan becak di Jakarta, Pak?”, tanya saya dalam tawa sesudah menunjukkan gambar itu kepada mereka. Diplomatis sekali sang Dekan menjawab, “Ah, itu ‘kan acara dalam rangka wisuda sarjana Untan saja. Nggak ada hubungannya, koq”. “Apakah ini bukan exploitation de sarjana par sarjana?”, batinku, karena kedua penumpangnya (penumpang yang satu lagi, Eddy Tugiono, SH, SU) adalah sarjana lama dan si penarik becak adalah sarjana baru. Ah, ya ndak tokh, Mas!

Sebenarnya beberapa hari ini saya menunggu kawan lama saya, Ir. Baskoro Effendy untuk memberikan komentar mengenai gambar itu lewat harian ini. Biasanya dia punya indera “pandang jauh” mengenai berbagai situasi, kondisi dan toleransi (disingkat sikonsi). Tunggu punya tunggu, tulisannya nggak nongol-nongol, baik ruang “Asap” maupun kolom lainnya. Akhirnya saya coba mencari judul yang pas untuk tulisan ini. Dapatlah, BECAK dengan singkatan Biaya Ekonomis Cuma Agak Kritis.

Acara yang dibuat oleh Fakultas Hukum itu memang unik. Dekan dan sejumlah dosen diarak kelilinga kampus dengan mengendarai becak. Penarik becaknya adalah sarjana baru. Acara ini bukan hanya unik tapi juga menarik, karena kalau Pemda DKI konsekuen dengan SK Gubernur, maka bulan Maret 1990 becak sudah harus lenyap di sana. Namun saya yakin bukan karena ada praduga bahwabecak akan di seluruh Indonesia, lalu timbul gagasan yang demikian. “Mumpung becak belum dihapus”. Bukan. Karena acara seperti ini juga pernah dilaksanakan di Universitas lain.

Ada beberapa alasan Pemda DKI untuk menghapuskan becak di sana. Pekerjaan sebagai penarik becak sangat tidak manusiawi. Becak merupakan wakil dari kesengsaraan hidup di dunia ketiga yang melarat. Becak menimbulkan kemacetan lalu-lintas. Becak bisa menjadi sumber kerawanan sosial. Dan sejumlah alasan lain yang kalau diperdebatkan tentu saja akan menimbulkan pro-kontra.

Kalau becak di DKI hapus, ke mana pengemudi becak akan pergi. Beberapa jalan keluar ditawarkan bagi mereka. Pulang ke kampung halaman mereka. (Memang ada biaya dari Pemda). Alih pekerjaan misalnya menjadi montir, tukang las, pedagang sayur, pengemudi mikrolet, bemo, bajaj. (Juga Pemda menyediakan dana untuk itu). Menjadi transmigran. (Jelas ada dananya).

Pemecahan masalah akibat dari penghapusan becak di DKI tentu saja tidak segampang membicarakannya. Banyak aspek yang perlu dijadikan pertimbangan. Pulang kampung, misalnya, bukan sekedar ke luar dari jakarta. Bisa saja mereka berangkat untuk beberapa hari (karena dibiayai Pemda), namun tidak tertutup kemungkinan mereka akan berbondong-bondong lagi ke Ibukota dalam suasana dan pekerjaan yang berbeda. Boleh jadi mereka menjadi pengemis, misalnya.

F.M. Suseno dalam tulisan berjudul “Jakarta tanpa becak?”, Kompas, 31 Januari 1990 dengan nada cukup keras meminta kepada Pemda DKI untuk memberikan alasan yang masuk akal tentang penghapusan becak. Menurut dia, justru penghapusan becak itu sendirilah yang tidak manusiawi. Menghancurkan basis hidup sekelompok manusia. Becak adalah angkutan yang murah. Becak tidak mengotori udara dan tidak berisik. Dengan adanya pangkalan becak, maka keamanan lingkungan akan lebih terjamin.

Juga masih dipertanyakan apakah ada pengganti yang cukup ideal untuk alat angkut becak. Bajaj? Bemo? Ojek? Oh, biayanya menjadi lebih mahal dan tidak lincah bergerak di jalan sempit atau gang, katanya. Disamping itu juga bajaj, bemo dan ojek turut menambah pencemaran lingkungan. Berisik lagi.

Pembangunan memang akan menimbulkan risiko dan konsekuensi. Dalam setiap perubahan tentu (akan) ada pihak yang dirugikan dan ada pihak yang diuntungkan. Teoretis dan praktis hal ini adalah benar. Mungkin kebijaksanaan penghapusan becak ini akan merembet hingga daerah-daerah di seluruh Indonesia. Karena menurut logika, kalau alasan untuk menghapuskan becak adalah karena kurang sesuai dengan martabat manusia, maka tidak mustahil kebijaksanaan ini akan diberlakukan di seluruh persada tanah air tercinta ini. Tanpa pandang bulu.

Tentu saja kalau ini terjadi, maka lagu “Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota …. becak becak tolong bawa saya dst.” hanyalah tinggal kenangan. Juga lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo “Abang becak, abang becak di tengah jalan. Cari muatan untuk mencari makan ….. dst.” Mungkin akan lenyap dari udara. Yang jelas karena tulisan ini sudah selesai (bukan berarti menyelesaikan masalah), maka saya mengundurkan diri dari udara. Nyuwun pamit. (Kampung B. Belitung). (Dikirim ke Akcaya pada 8 Februari 1990 dan dimuat 13 Februari 1990).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: