PULO

PIJAT URAT LEMASKAN OTOT

Oleh Pulo Siahaan

“Dari mana saja, Pak Pulo? Kok lama nggak ketemu?” Itu pertanyaan yang tercetus dari kawan lama saya, Drs Tarsisius Uryang, belum lama ini. Kami memang berbeda kantor walaupun kami bernaung di bawah satu ‘atap lebar’. Waktu itu saya akan membayar iuran televisi di Kantor Pos Pembantu Untan. Secara kebetulan kami bertemu di samping Kantor Pos itu.

Saya katakan kebetulan, karena dengan tetangga sendiripun saya belum tentu bisa bertemu sekali dalam sekwartal. Bahkan terkadang hanya pada hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Natal atau Tahun Baru saja kami bisa bertemu dan bersilaturrahmi.

Apakah ini pertanda bahwa nilai keakraban dan persaudaraan sudah jauh berkurang akhir-akhir ini? Atau karena setiap orang sibuk dengan urusan dan kepentingan masing-masing, sehingga acara pertemuan tidak resmi dianggap tidak memberikan manfaat. Atau karena kadar ketidakpedulian yang semakin meningkat, sehingga sebagian warga masyarakat menjadi acuh tak acuh dengan keadaan sekitar. Atau … atau … Wallahualam bisawab. Yang pasti kita punya jawaban sendiri-sendiri.

“Pulang dari rantau”, jawab saya spontan sedikit bergurau. Saya teringat kembali iklan TVRI yang dilakonkan oleh Benyamin S. dan Ida Royani sekitar satu dasa warsa yang lalu. Sekarang iklan di TVRI secara resmi sudah tidak ada, walaupun disinyalir bahwa secara terselubung ada iklan yang masih bergentayangan di sana. Baiklah, kalau pembaca tidak percaya. Memang dibutuhkan waktu untuk mempercayai sesuatu.

Saya melihat wajah sang sobat (pinjam istilah Ir A. Hamid, M.Eng) rada serius. “Kok lama nggak nulis?”, lanjutnya. “Ke luar kota, ya”, ujarnya lagi dengan sedikiit penasaran. Nah, ‘konangan’ (ketahuan) sekarang. Pertanyaan “Kok lama nggak ketemu?” rupanya identik dengan “Kok lama nggak nulis?” “Ya, begitulah kira-kira”, sahut saya sekenanya, namun dalam nada bersungguh-sungguh.

Hati kecil saya nimbrung, “ya, ke luar kota. Sanggau, Sekadau dan Sintang saya jelajahi selama hampir sebulan. Ya, ke luar provinsi. Jawa Barat saya kunjungi dan diami ‘sementara’ selama sebulan lebih. Ya, ke luar negeri. Bahkan tanpa Surat Perjalanan Laksana Paspor (Travel Document in lieu of a Passport), apalagi Paspor. Kok bisa? Kenapa tidak? Caranya? Dengan menjejakkan kaki selangkah melewati perbatasan Indonesia-Malaysia di Entekong, baru-baru ini”.

Saya dan sang sobat tadi masih berbincang-bincang tentang berbagai ikhwal. Termasuk tentang perkembangan harian Akcaya yang begitu pesat akhir-akhir ini. Juga tentang lesehan seniman tempo hari dan kemungkinan lesehan-lesehan lain yang belum masuk dalam agenda. Berita daerah, berita nusantara, bahkan berita internasional tersaji cukup lengkap di sana. Akcaya tidak kalah dengan koran-koran pusat, apalagi dengan koran daerah yang sudah lebih dulu lahir dan mengenal sinar mentari seperti Kedaulatan Rakyat Yogyakarta atau Pikiran Rakyat Bandung.

Hanya sayang selama sebulan lebih berada di Jawa Barat, saya tidak pernah membaca harian Akcaya. Kangen juga, sih. Soalnya, sejak pertama kali menapakkan kaki di bumi katulistiwa pada Maret 1975, saya langsung berakrab-ria dengan Akcaya. Kala itu Akcaya belum seumur ‘telo rambat’. Akcaya belum apa-apa dan bahkan sering tidak dipandang dengan sebelah matapun. Terbitnya tidak teratur, kadang-kadang sekali tiga hari atau dalam satu terbitan tercantum dua tanggal yang berurutan.

Dewasa ini kondisi itu sudah tidak kita temukan lagi. Akcaya terbit dengan tertib tiap hari dengan dua belas halaman. Kantor baru berlantai tiga dengan peralatan dan mesin-mesin mutakhir menambah keyakinan bahwa ‘era kecemasan’ sudah berlalu dan kini di depan mata sudah tergelar ‘zaman keemasan’. Tentu saja semua fasilitas itu harus didukung oleh pengelolaan yang semakin mantap pula. Kalau begitu mutu sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penentu bagi harian Akcaya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Pada gilirannya Akcaya diharapkan akan semakin berbobot dan semakin diyakini sebagai sumber informasi yang dapat diandalkan.

Akhir 1990 lalu sewaktu saya dan Ir A. Hamid M.Eng berada di Ngayogyakarto Hadiningrat selama sebulan lebih, kami masih dapat melepas rindu pada Akcaya dengan ‘lari maraton’ ke Asrama Mahasiswa Kalbar di Bintaran Tengah. Atau sewaktu akhir-akhir ini di Jakarta, saya hampir pasti menyempatkan diri untuk melahap isi Akcaya di Jalan Museum 3 (Kantor Perwakilan Kalbar).

“Kok lama nggak nulis?” pertanyaan yang menggelitik dari sobat saya itu kembali bergema beberapa hari setelah pertemuan di samping Kantor Pos itu. Iya, ya. Lama juga memang. Sepintas saya membatin, “Nggak apalah. Toh sudah banyak penulis lain yang mengisi ruang ‘Opini’ di Akcaya. Bidang-bidang yang ditulispun sudah cukup beragam”. “Ya, tapi lain penulis lain pula cara menyajikan tulisannya”, itu suara dari seberang batin.

Tapi ingat, seperti judul tulisan ini saya memang sedang “Pijat Urat Lemaskan Otot”, kok. Jangan keburu menuduh yang bukan-bukan. Malah nanti bisa-bisa pembaca yang didakwa berotak ‘ngeres’. Apakah nggak boleh memijat urat dan apakah dilarang melemaskan otot? Boleh-boleh saja, ‘kan? Saya sendiri kadang keliru membedakan antara pijat, pijit dan urut. Saya juga sering bingung menentukan perbedaan antara urat dan otot.

Judul tulisan inipun saya paksa-paksakan saja, kok. Lho, kenapa? Nggak apa-apa. Yang jelas, singkatan judul tulisan ini adalah PULO. (Penulis adalah pencinta Harian Akcaya). (Dikirim ke Akcaya pada 14 April 1990 dan dimuat 22 April 1990).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: