BIJAKSANA

Juli 29, 2009 at 3:38 AM (Tak Berkategori)

Bijaksana

Ada seorang nabi yang mempunyai mantera untuk menghidupkan tulang orang mati. Murid2nya berkali2 meminta agar nabi itu memberikan mantera tersebut kepada mereka. Tetapi nabi itu selalu menjawab, "sabarlah, kamu perlu pengalaman lebih dulu. kamu perlu belajar bijak dari pengalaman. Tunggulah sampai kamu menjadi lebih matang. Nanti saya pasti akan memberikan mantera itu."

Akan tetapi, murid2nya tetap mendesak. Mereka terus mendesak. Akhirnya dengan berat hati nabi itu memberikan mantera yang mereka minta itu. Para murid itu gembira. Mereka langsung meninggalkan sang guru. Mereka ingin mencoba mantera itu. Diperjalanan mereka melihat ada beberapa tulang berserakan. "Mari kita coba sekarang!" Lalu mereka menggunakan mantera itu. Apa yang terjadi? Tulang2 itu mulai bergerak. Mantera itu ampuh! Dengan mata terbelalak mereka melihat tulang2 itu mulai ditumbuhi daging. Lalu menjadi kerangka. Ternyata kerangka itu menjadi serigala. Serigala yang hidup dengan mata yang liar. Murid2 itu lari ketakutan. Tetapi mereka dikejar serigala itu. Mereka diterkam. Mereka tewas terkoyak2.

Kepandaian dan kekuasaan belum segala2nya. Orang yang pandai dan berkuasa belum tentu bijak dalam menggunakan kepandaian dan kekuasaannya. Mereka belum berpengalaman. Akan tetapi, apa artinya pengalaman?

Pdt.A, sudah sepuluh tahun bekerja, sedangkan Pdt. B lima tahun. Siapa yang lebih berpengalaman? Apa Pdt. A? belum tentu. Kedua pendeta itu tiap tahun mengajar katekese. Pdt.A sudah sepuluh kali mengajar, tetapi bahan yang digunakan selalu sama, begitu juga cakupan, urutan dan caranya. Pdt.B tiap tahun mengganti bahan, cakupan, urutan dan metode. Jadi, Pdt.B sudah menggunakan lima macam pendekatan yang berbeda. Ia lalu membandingkan dan menilai kelima macam kelas yang berbeda itu. Nah, siapa yang lebih berpengalaman? Jelas, Pdt.B lebih berpengalaman walaupun masa kerjanya lebih singkat. Pengalaman belum tentu identik dengan panjangnya masa kerja. Pengalaman lebih dari sekadar mengalami sesuatu. Apa yang kita lihat, dengar atau kerjakan belum tentu menjadi pengalaman. Apa yang kita kerjakan baru menjadi pengalaman kalau kelak kita bisa memanfaatkan kesalahan dan keberhasilannya untuk pekerjaan kita yang selanjutnya. Kualitas sebuah pengalaman diukur dari kemampuan kita untuk menarik pelajaran dari pengalaman itu. Pakar pendidikan John Dewey (1859 -- 1952) dalam buku Experience and Education menulis : "Everything depends upon the quality of the experience which is had. The quality of any experience......... is its influence upon later experiences....wholly independent of desire or intent, every experience lives on in further experiences."

Dalam pengertian itu kita berkata bahwa cara belajar yang terbaik adalah belajar dari pengalaman. Bukan pengalaman dalam arti sekadar mengalami, melainkan bertanya apa yang aku pelajari dari apa yang kualami, apa kelemahanku, apa kekuatanku, apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu diubah, apa manfaat yang diperoleh orang banyak dari semua ini? Pengalaman baru bisa disebut pengalaman kalau apa yang dialami itu diuji secara kritis. Untuk itu, dibutuhkan sikap jujur terhadap diri sendiri dan mau mengakui kebodohan sendiri. Orang yang cepat berpuas diri biasanya miskin
pengalaman, walau apa yang dialaminya banyak.  Kualitas pengalaman diukur dari intensitas. Hidup Yesus dibumi hanya 33 tahun, tetapi hidupNya begitu intens (=dalam, hebat, padat, berarah), karena Ia mempunyai intensi (=tujuan, maksud) yang jelas, yaitu "untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mrk.10:45)

Hidup yang bermutu menghasilkan pengalaman. Pengalaman menghasilkan sikap bijak. Pengalaman menjadikan orang berhati2 dan mempertimbangkan segala sesuatu secara tenang dan matang. Ia melihat persoalan bukan hanya dari satu perspektif atau dari kepentingan sendiri, melainkan dari pelbagai perspektif atau dari kepentingan orang banyak. Ia tidak begitu saja maju dan menerjang. Jika perlu, ia bersedia berhenti dan menepi. Seperti ditulis oleh pengarang Amsal, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" (22:3). Perhatikan bahwa ayat itu mempertentangkan antara "bijak" dan "tak berpengalaman". Pola itu terdapat disepanjang Kitab Amsal (contoh eksplisit lain ada didalam 14:15). Menurut Amsal, orang yang mau bijak perlu belajar dari pengalaman.

Pandai dan berkuasa belum berarti bijak dan berpengalaman. Murid2 nabi tadi sudah pandai dan berkuasa karena mereka mempunyai mantera yang mampu menghidupkan tulang. Tetapi mereka terburu nafsu untuk menggunakan kepandaian dan kekuasaan. Tulang yang mereka hidupkan ternyata tulang serigala. Mereka menghidupkan sesuatu yang kemudian mematikan mereka. Mereka sudah mempunyai kepandaian dan kekuasaan, tetapi, mereka belum mempunyai sifat bijak dan pengalaman. (LEADERSHIP BOOKS COLLECTION).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: