LEADERSHIP PERSPECTIVE

Agustus 17, 2009 at 3:46 PM (Tak Berkategori)

LEADERSHIP
A Leadership Perspective from THE ORGANIZATIONAL CULTURE WEBSITE

MSI President Jack Pachuta offers this perspective on leadership:

Are you a leader? I’m not referring to whether or not your official title within the organization identifies you as a leader. Leadership is determined by the perspectives of other people, not by what’s printed on a business card.

A rule of thumb: Leaders are not appointed, they “emerge.” Leaders are the individuals whose thoughts and words are regarded as credible and accurate. They might or might not by the “official” leaders groups, but by words and actions, they lead people.
Successful organizations understand that leadership is more than just
longevity and credentials listed on a resume. It is the ability to work with others to get the job done. In that respect, many of the best leaders in your organizations are probably line workers. They are the people whom others turn to get opinions about the thoughts and actions of the executive and managerial staff.

What should an organization do to maximize the impact of these leaders within the organizational structure?

Identify them and recognize that they have an impact on the organization, then use their talents to make the entire organization. They can provide you with insights that you will not find at the managerial level and above.

Seek out their opinions and keep them informed of what’s happening.
They can serve as vital communication channels for your initiatives and long-term plans. They can help you pave the way for change and organizational renewal.

Jack Pachuta’s seminar, ‘How to Manage Change While Building an
Effective Team,’ examines various aspects of leadership. The program
description is at http://www.cultural-analysis.com/pachuta_seminar2.htm.

Management Strategies, Inc.
PO Box 191
Cedarburg, WI 53012
(262) 377-7230

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

BIJAKSANA

Juli 29, 2009 at 3:38 AM (Tak Berkategori)

Bijaksana

Ada seorang nabi yang mempunyai mantera untuk menghidupkan tulang orang mati. Murid2nya berkali2 meminta agar nabi itu memberikan mantera tersebut kepada mereka. Tetapi nabi itu selalu menjawab, "sabarlah, kamu perlu pengalaman lebih dulu. kamu perlu belajar bijak dari pengalaman. Tunggulah sampai kamu menjadi lebih matang. Nanti saya pasti akan memberikan mantera itu."

Akan tetapi, murid2nya tetap mendesak. Mereka terus mendesak. Akhirnya dengan berat hati nabi itu memberikan mantera yang mereka minta itu. Para murid itu gembira. Mereka langsung meninggalkan sang guru. Mereka ingin mencoba mantera itu. Diperjalanan mereka melihat ada beberapa tulang berserakan. "Mari kita coba sekarang!" Lalu mereka menggunakan mantera itu. Apa yang terjadi? Tulang2 itu mulai bergerak. Mantera itu ampuh! Dengan mata terbelalak mereka melihat tulang2 itu mulai ditumbuhi daging. Lalu menjadi kerangka. Ternyata kerangka itu menjadi serigala. Serigala yang hidup dengan mata yang liar. Murid2 itu lari ketakutan. Tetapi mereka dikejar serigala itu. Mereka diterkam. Mereka tewas terkoyak2.

Kepandaian dan kekuasaan belum segala2nya. Orang yang pandai dan berkuasa belum tentu bijak dalam menggunakan kepandaian dan kekuasaannya. Mereka belum berpengalaman. Akan tetapi, apa artinya pengalaman?

Pdt.A, sudah sepuluh tahun bekerja, sedangkan Pdt. B lima tahun. Siapa yang lebih berpengalaman? Apa Pdt. A? belum tentu. Kedua pendeta itu tiap tahun mengajar katekese. Pdt.A sudah sepuluh kali mengajar, tetapi bahan yang digunakan selalu sama, begitu juga cakupan, urutan dan caranya. Pdt.B tiap tahun mengganti bahan, cakupan, urutan dan metode. Jadi, Pdt.B sudah menggunakan lima macam pendekatan yang berbeda. Ia lalu membandingkan dan menilai kelima macam kelas yang berbeda itu. Nah, siapa yang lebih berpengalaman? Jelas, Pdt.B lebih berpengalaman walaupun masa kerjanya lebih singkat. Pengalaman belum tentu identik dengan panjangnya masa kerja. Pengalaman lebih dari sekadar mengalami sesuatu. Apa yang kita lihat, dengar atau kerjakan belum tentu menjadi pengalaman. Apa yang kita kerjakan baru menjadi pengalaman kalau kelak kita bisa memanfaatkan kesalahan dan keberhasilannya untuk pekerjaan kita yang selanjutnya. Kualitas sebuah pengalaman diukur dari kemampuan kita untuk menarik pelajaran dari pengalaman itu. Pakar pendidikan John Dewey (1859 -- 1952) dalam buku Experience and Education menulis : "Everything depends upon the quality of the experience which is had. The quality of any experience......... is its influence upon later experiences....wholly independent of desire or intent, every experience lives on in further experiences."

Dalam pengertian itu kita berkata bahwa cara belajar yang terbaik adalah belajar dari pengalaman. Bukan pengalaman dalam arti sekadar mengalami, melainkan bertanya apa yang aku pelajari dari apa yang kualami, apa kelemahanku, apa kekuatanku, apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu diubah, apa manfaat yang diperoleh orang banyak dari semua ini? Pengalaman baru bisa disebut pengalaman kalau apa yang dialami itu diuji secara kritis. Untuk itu, dibutuhkan sikap jujur terhadap diri sendiri dan mau mengakui kebodohan sendiri. Orang yang cepat berpuas diri biasanya miskin
pengalaman, walau apa yang dialaminya banyak.  Kualitas pengalaman diukur dari intensitas. Hidup Yesus dibumi hanya 33 tahun, tetapi hidupNya begitu intens (=dalam, hebat, padat, berarah), karena Ia mempunyai intensi (=tujuan, maksud) yang jelas, yaitu "untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mrk.10:45)

Hidup yang bermutu menghasilkan pengalaman. Pengalaman menghasilkan sikap bijak. Pengalaman menjadikan orang berhati2 dan mempertimbangkan segala sesuatu secara tenang dan matang. Ia melihat persoalan bukan hanya dari satu perspektif atau dari kepentingan sendiri, melainkan dari pelbagai perspektif atau dari kepentingan orang banyak. Ia tidak begitu saja maju dan menerjang. Jika perlu, ia bersedia berhenti dan menepi. Seperti ditulis oleh pengarang Amsal, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" (22:3). Perhatikan bahwa ayat itu mempertentangkan antara "bijak" dan "tak berpengalaman". Pola itu terdapat disepanjang Kitab Amsal (contoh eksplisit lain ada didalam 14:15). Menurut Amsal, orang yang mau bijak perlu belajar dari pengalaman.

Pandai dan berkuasa belum berarti bijak dan berpengalaman. Murid2 nabi tadi sudah pandai dan berkuasa karena mereka mempunyai mantera yang mampu menghidupkan tulang. Tetapi mereka terburu nafsu untuk menggunakan kepandaian dan kekuasaan. Tulang yang mereka hidupkan ternyata tulang serigala. Mereka menghidupkan sesuatu yang kemudian mematikan mereka. Mereka sudah mempunyai kepandaian dan kekuasaan, tetapi, mereka belum mempunyai sifat bijak dan pengalaman. (LEADERSHIP BOOKS COLLECTION).

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

HASRAT UNTUK BERUBAH

Juli 28, 2009 at 4:07 PM (Tak Berkategori)

HASRAT UNTUK BERUBAH

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin
mengubah dunia.

Seiring bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati dunia tak kunjung
berubah. Maka, cita-cita itu agak kupersempit, lalu kuputuskan hanya
mengubah negeriku.

Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya.

Ketika usiaku telah semakin senja, dengan semangatku yang masih
tersisa, kuputuskan mengubah keluargaku, orang-orang yang paling
dekat denganku.

Tetapi celakanya, mereka pun tidak mau berubah.

Dan kini … sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba
kusadari: “Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku, maka
dengan menjadikan diriku panutan, mungkin akan bisa mengubah
keluargaku. Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi
aku mampu memperbaiki negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa
mengubah dunia.”

Sumber:
Terjemahan dari sebuah puisi yang terukir di suatu makam di Westminter, Inggris (1100 M)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

UJU DI NGOLUNGKON MA NIAN

Juli 28, 2009 at 3:21 PM (Tak Berkategori)

UJU DI NGOLUNGKON MA NIAN
Hamu anakkonhu, tampuk ni pusu-pusukhi
Pasabar ma amang, pasabar ma boru
Laho pature-ture au.
Nunga matua au jala sitogu-toguon i
sulangan mangan ahu, siparidion au
alani parsahitonhi.
Reff.
So marlapatan marende, margondang, marembas hamu
molo dung mate au.
So marlapatan nauli, na denggan, patupaonmu
molo dung mate au.
Uju di ngolunghon ma nian
Tupa ma bahen angka nadenggan
Asa tarida sasude
Holong ni rohami, marnatua-tua i.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

PARIKAN

Juni 29, 2009 at 4:41 PM (Tak Berkategori)

PARIKAN

Walang kekek menclok ning tenggok, mabur maneh menclok ning pari
aja ngenyek karo wong wedok, yen ditinggal lunga setengah mati.

Omah gendheng tak saponane
abot entheng tak lakonane.

Walang abang menclok ning kara, walang biru walange putih
bujang maneh ora ngluyura, sing wis nduwe putu wae ra tau mulih.

Andheng-andheng ana pilingan
aja dipandeng mundhak kelingan.

Walang ireng mabur mbrengengeng, walang ireng dawa suthange

yen dha seneng aja mung mandeng, golekana endi omahe.

Bisa nggambang ora bisa nyuling
bisa nyawang ora bisa nyandhing.

Mikul suket dientul-entul
senenge banget nanging ora bisa kumpul.

theklek kecemplung kalen
timbang golek luwung balen.

abang-abang ora legi
tiwas magang ora dadi.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ILMU KEKAYAAN

Juni 29, 2009 at 4:29 PM (Tak Berkategori)

Belajar ‘ILMU KEKAYAAN’

Betapa pun kemiskinan dikemas rapi dengan kata-kata yang mengharukan atau bahkan diagung-agungkan, faktanya hidup ini tidak mungkin berjalan dan dikatakan sukses jika seseorang tidak memiliki kekayaan.

Setiap orang memiliki hak menjadi kaya jika ia dapat bertumbuh dalam pikiran, jiwa, dan tubuhnya bersama hasrat dan kemauan keras untuk menjadi kaya.

Anda yang kaya adalah seorang yang mampu memenuhi semua yang Anda inginkan, butuhkan, dan bisa menikmati hidup Anda dalam arti seutuhnya.

Ketika Anda mendorong diri untuk mewujudkan kekayaan, berarti Anda sudah dekat dengan kekayaan itu.

Hidup setiap orang pada dasarnya dilandasi oleh tiga motif; yaitu hidup untuk jiwa, tubuh, dan pikiran. Ketiganya sama tinggi.

Manusia tidak mungkin bisa hidup bahagia dan makmur jika tubuhnya tidak dicukupi dengan makanan enak, pakaian bagus, rumah bagus, istirahat yang cukup, rekreasi yang indah, serta terikat kerja keras yang berlebihan.

Setiap orang harus menginginkan kekayaan, dan secara tulus memperjuangkannya agar hadir dalam kehidupan.

Semua bentuk dan wujud kekayaan berasal dari kerja keras, pengetahuan, tindakan, upaya, atau usaha-usaha secara gigih yang terarah benar dan tepat sasaran.

Menjadi kaya adalah bekerja secara terfokus dalam kosentrasi yang konsisten untuk mendapatkan nilai tambah atas setiap usaha yang Anda lakukan.

Mendapatkan modal adalah titik awal menjadi kaya. Dan ingat, modal tidak berarti selalu harus dalam bentuk uang, tapi modal merupakan hasil tanpa pengecualian dari mengerjakan sesuatu di jalan yang tepat dan benar.

Untuk menjadi kaya Anda tidak perlu memonopoli semua peluang yang ada. Biarkan kompetisi sehat lahir agar Anda selalu mampu merawat dan menjaga peluang – peluang yang ada.

Tidak ada orang yang ditakdirkan menjadi miskin, jadi setiap orang tanpa terkecuali memiliki peluang besar untuk menjadi kaya.

Gagasan dan pemikiran untuk menjadi kaya adalah langkah awal menuju keberhasilan keuangan Anda. Bentuklah imajinasi menjadi kaya raya yang kuat dipikiran Anda, kemudian wujudkan imajinasi tersebut dalam realitas.

Pikirkan kesejahteraan ketika dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menguntungkan Anda, atau pikirkan kekayaan di tengah keadaan yang penuh dengan cobaan kelaparan, sungguh memerlukan kemauan dan kekuatan mental dan fisik yang lebih. Tetapi bila Anda mampu menjadi penguasa pikiran untuk segala kekayaan. Anda pasti akan menulis takdir Anda menjadi kaya raya.

Anda harus dapat menciptakan sesuatu dari gagasan Anda, dan Anda harus mengaitkan gagasan Anda itu pada substansi tanpa bentuk, Anda pasti dapat menyebabkan sesuatu yang ada dipikiran Anda itu terwujud secara sempurna.

Anda harus memiliki hasrat dalam keinginan kuat untuk mengembangkan hidup. Segala kehidupan harus terus-menerus mencari pengembangan kehidupannya. Sebab, kehidupan Anda pada hakekatnya harus bertumbuh.

Hasrat menjadi kaya sebenarnya hanyalah sebuah keinginan supaya hidup ini dapat lebih memenuhi segala kebutuhan hidup. Setiap hasrat merupakan sebuah kemungkinan yang belum terwujud ke dalam tindakan nyata. Perwujudan dari keberanian dan ketegasan Anda mencari pemenuhan inilah yang memunculkan hasrat. Apa yang membuat Anda menginginkan lebih banyak kekayaan adalah sama dengan apa yang menyebabkan ternak atau tanaman bertumbuh. Setiap kehidupan memang selalu berusaha mencari pemenuhan diri, lebih dari sebelumnya.

Cara mendatangkan kekayaan dalam kehidupan Anda adalah melalui gagasan utuh yang disertai tindakan nyata untuk bekerja keras dengan segala kekuatan mental dan raga Anda.

Jika Anda menginginkan uang satu milyar rupiah, buatlah gambaran mental tentang uang satu milyar itu sepositif mungkin, sampai uang satu milyar itu terasa seolah sedang Anda bekerja keras untuk mendapatkannya dan siap untuk Anda depositokan. Setelah uang satu milyar menjadi keyakinan kuat yang absolut dipikiran Anda, tanpa pernah meragukannya lagi, bahwa uang satu milyar itu memang sedang mengumpulkan diri untuk menjadi milik Anda. Jangan pernah berpikir atau mengatakan sesuatu apa pun yang mengurangi rasa absolut Anda untuk memiliki uang satu miliar. Akuilah uang satu miliar itu memang sudah menjadi milik Anda.

Pastikan Anda selalu hidup dengan rasa absolut bersyukur. Pastikan Anda di arah yang tepat sasaran. Pastikan Anda cerdas menggunakan kekuatan kemauan untuk menjadi kaya. Pastikan hasrat dan perjuangan Anda untuk menjadi kaya tidak berkurang seincipun. Pastikan Anda selalu berpikir dan bertindak di jalan mencari kekayaan yang tepat dan benar. Pastikan Anda selalu bertindak secara efektif dan efisien untuk segala hal dalam hidup Anda. Pastikan Anda menjalankan bisnis Anda secara cermat dan tepat. Pastikan Anda selalu bergerak kearah pertumbuhan kekayaan Anda. Pastikan Anda seorang pribadi yang selalu terbuka untuk menambah wawasan, keterampilan, dan pengetahuan. Pastikan Anda tidak menjadi rakus dan sombong, tapi Anda mampu berbagi dan mendistribusikan kekayaan Anda ke dalam berbagai investasi yang menolong kehidupan orang lain. (Kutipan, dari Wallace D. Wattles).

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TODAY I WILL WALK

Mei 5, 2009 at 6:23 PM (Tak Berkategori)

TODAY I WILL WALK

Today I will walk

With my hands in God

Today I will trust in Him

And not be afraid

For He will be there

For he will be there

Every moment to share

On this wonderful day

He has made.

****

Hari bahagia dalam hidupku

Berjalan bersamaMu

Yesus Tuhanku

S’bab Kau sertaku

S’lalu sertaku

Sepanjang hidupku

Bahagia selalu (Dia selalu)

Sertaku.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SOMBONG

April 29, 2009 at 3:20 AM (Tak Berkategori)


SOMBONG
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih
rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan
waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir
dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan dan ngapain juga sombong ?

Dikutip : Dari Seorang Sahabat

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

SATE SOTO, MATE NA OTO

April 27, 2009 at 10:02 AM (Tak Berkategori)

– Sate soto, mate na oto. (artinya kalau kau bodoh, maka matilah kau sopir!!)

– Biar miskin asal cerdik, terlawan juga orang kaya.

– Ijuk di para-para, hotang di parlabian. Na bisuk nampuna hata, na oto tu pargadisan.      

– One is never too old to learn.

– Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young.

Masak kita-kita yang masih muda-muda mau kalah sih. Nggak dong. Hayo singsingkan lengan baju, segera bergerak maju.

Permalink 1 Komentar

ALUSI AU

April 23, 2009 at 4:55 AM (Tak Berkategori)

ALUSI AU

Alusi au alusi au (2x)

Marragam-ragam do anggo sinta-sinta di hita manisia.

Marasing-asing do anggo pangidoan ni ganup-ganup jolma

hamoraon hagabeon hasangapon i do di lului na deba

di nadeba tung asal tarbarita goarna tahe.

Anggo di au tung asing do sinta-sinta asing pangidoanku

mansai ambal pe i unang pola manginsak hamu tahe di ahu

sasudena na hugoari i ndada i saut di au

sinta-sinta di au tung asing situtu dao tahe.

tung holong ni roham i sambing do na huparsinta-sinta

tung denggan ni basam lagumi do na hupaima-ima

asi ni roham do ito unang loas ahu maila

beha roham dok ma hatam alusi au.

Alu…si au alu…si au

Alusi au ito da alusi au. da alusi ito da

Ke… Anggo di au …

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »